Monday, November 10, 2008

Seorang Ronin dengan Pedang Patah

Lelaki menghunus pedang di pagi sayat sembilu
Patah terbelah darah mengalir hulu
Telah kukembara dunia
Hidup dalam ethereral tak nyata

Lihatlah siapa yang masih berdiri
Kain tercabik cabik kaki lelah menari
Waktu menumpukkan usia
Kerakal menghantam raga

Biarkan hari ini aku menari sekali lagi
Menyanyikan kebekuan teriakkan kesunyian
Kucambuk anginmu kucumbu imajimu
Menantang musim untuk tidak datang mengganti alamku

Ooh masihkah kau terpukau
Cahayaku pudar tak lagi silau

Ooh masihkan kau takjub
Auraku jelaga tak lagi memancarkan hidup

Lihatlah aku menarikan pedang melepaskan kematian
Lihatlah aku melelehkan matahari membekukan air dewi
Kuikat embun kumasak langit kugenggam alam
Sampai tak lagi kurasakan sakit siang berganti malam

Sampai tak lagi
Pedangku patah kurasakan menembus nadi

Jakarta, 11 November 2008

1 comment:

Wira said...

Ayo buat antologi puisi, Mam....