Saturday, August 18, 2007

Sajak untuk seorang Peri (3)

Setiap kali kupandangi lingkaran bulan di sela awan putih, nadi kematianmu menghampiri gelegak yang ada dalam diri. Meski bintang masih akan menjadi pemandu arah jalanku namun seperti tidak ingin ku melangkah lagi untuk tahu apa yang akan kuhadapi.

Setiap kali dahan patah menggores telapak kaki, gurat lukamu mengiris logikaku untuk kembali meloncatkan bunga api dalam ruang jiwaku. Meski udara beku mulai mematikan syaraf-syaraf kerinduanku dan tak ingin lagi kurasakan stimuli-stimuli itu.

Setiap kali kubuka kembali buku persembahan untukmu, kelam jiwamu merasuk dalam nadiku, mengalir dalam darahku dan berdetak bersama jantungku.

Dan pada setiap kali itu - harus kupaksakan jiwaku lepas dari tubuhku yang telah terendam dalam kematian rindu untukmu.

Jakarta, Februari 2007

No comments: