Saturday, September 25, 2004

Sajak untuk seorang Peri

Masih adakah waktu untuk kita
berbicara seruang dua?
Hanya untuk menghembus nafas kata
Saat musim jatuh dalam kaca kaca jelaga yang diam
Bukan untuk cinta

Masih adakah musim untuk mengenalmu?
Kilatan mata seorang hawa
Seperti samudra panas menggila
dijatuhkan dalam nyanyi beku

Bukan untuk lebur dalam kesunyianmu
Tapi salahku karena auramu ninggalkan kabut
dalam hampa langkahku
yang terdera sendiri

Jakarta, 2004
Phase Painful Maturity

1 comment:

enigmame said...

masihkah ada waktu untuk kita.....

hanya DIA saja yang tau... tapi.. aku mengharapkan kau masih ingin mendengar rintihan hatiku..