Friday, September 24, 2004

Memandang pagi

Memandang keagungan pagi
Kulepaskan burung-burung dari sarang retaknya
Memanah langit biru
hingga luka dan berdarah
Namun darah itu adalah
kepak sayap
dan bulu-bulunya

Kelam menggenggam matahari
Dalam kelam ngangakan celahnya sendiri
Sebentuk pedang cahaya menembus mega
Aku menggenggam tiap jengkal udara dingin
dengan jari-jariku

Beri, beri aku angin
Akan kuikat dalam embun
Kumasak dalam nyala mendung
Api redup di langit yang berdegup
Hingga harum dan wangi sarinya
Dan aku mabuk karena meminumnya

Denpasar, 1997
Fase Theater Angin





No comments: