Wednesday, December 07, 2016

Buntu

Tak lagi tajam tak lagi mengakar
Lidah mati hati tersasar
Melihat waktu melahap mimpi
Tak ada tersisa untuk natakan hati

Ingin kuurai kembali yang terserak
Tapi pecah burai tak dapat lagi kuhentak

Ingin lagi kuminum angin yang dimasak dalam nyala mendung
Yang dipanaskan api bara purba 
Yang disinarkan dari cahaya
Oo, langit yang maha biru berkelambu mega

Dalam diam aku ingin bicara 
Dalam sunyi aku ingin lantang bernyanyi
Tapi entah hanya tak ada 

Monday, November 10, 2008

Seorang Ronin dengan Pedang Patah

Lelaki menghunus pedang di pagi sayat sembilu
Patah terbelah darah mengalir hulu
Telah kukembara dunia
Hidup dalam ethereral tak nyata

Lihatlah siapa yang masih berdiri
Kain tercabik cabik kaki lelah menari
Waktu menumpukkan usia
Kerakal menghantam raga

Biarkan hari ini aku menari sekali lagi
Menyanyikan kebekuan teriakkan kesunyian
Kucambuk anginmu kucumbu imajimu
Menantang musim untuk tidak datang mengganti alamku

Ooh masihkah kau terpukau
Cahayaku pudar tak lagi silau

Ooh masihkan kau takjub
Auraku jelaga tak lagi memancarkan hidup

Lihatlah aku menarikan pedang melepaskan kematian
Lihatlah aku melelehkan matahari membekukan air dewi
Kuikat embun kumasak langit kugenggam alam
Sampai tak lagi kurasakan sakit siang berganti malam

Sampai tak lagi
Pedangku patah kurasakan menembus nadi

Jakarta, 11 November 2008

Wednesday, November 05, 2008

Katrina Jiwa

Lihatlah siapa yang tergeletak lelah
Sayap-sayap jiwa mengepak tanpa arah
Waktu mengutuknya
Takdir pun tertawa

Lebam
Hampa
Hilang tanpa makna

Dan setiap kata-kata jadi batubara
Membakar hingga tersisa jelaga
Dan orang-orang tetap tertawa

Lihatlah siapa yang mengaku kalah
Baju tercabik dan pedang terhunus patah


Jakarta, November 2008

Monday, November 03, 2008

Sulur Nostalgi

Tak terasa satu dekade berlalu sudah
Dan waktu ini masih terasa kental menampar wajah
Jiwa ini batu dan kubiarkan dia beku

Sejuta kerakal mengikis gurat-gurat sunyiku
Angin menyayat lagi waktu yang tak lagi menunggu
Dan nuansa yang timbul hilang dalam imagi tentangmu

Kubiarkan masa yang memadat dalam gelap menyeretku dalam cangkir kenangan lama
Menikmati kopi-kopi yang sudah tidak lagi terasa
Saat menarikan malam meniru kupu-kupu
Kembara kumba dalam sari warnamu

Seranta kuhempas nafas untuk memecahkan kristal perangkap waktu
Tak lagi dia tak lagi aku tentangnya
Tak lagi hidup ini untuk mengenalmu

Jakarta, October 2008

Saturday, August 18, 2007

Sajak untuk seorang Peri (3)

Setiap kali kupandangi lingkaran bulan di sela awan putih, nadi kematianmu menghampiri gelegak yang ada dalam diri. Meski bintang masih akan menjadi pemandu arah jalanku namun seperti tidak ingin ku melangkah lagi untuk tahu apa yang akan kuhadapi.

Setiap kali dahan patah menggores telapak kaki, gurat lukamu mengiris logikaku untuk kembali meloncatkan bunga api dalam ruang jiwaku. Meski udara beku mulai mematikan syaraf-syaraf kerinduanku dan tak ingin lagi kurasakan stimuli-stimuli itu.

Setiap kali kubuka kembali buku persembahan untukmu, kelam jiwamu merasuk dalam nadiku, mengalir dalam darahku dan berdetak bersama jantungku.

Dan pada setiap kali itu - harus kupaksakan jiwaku lepas dari tubuhku yang telah terendam dalam kematian rindu untukmu.

Jakarta, Februari 2007

Sunday, March 04, 2007

Sajak untuk seorang Peri (2)

Tak pernah akan terpikir aku akan berjalan di pinggir jurang saat kau datang membawakan sekuntum cerita untuk aku genggam. Dan saat itu kau alirkan kecemasan akan musim yang selalu berganti meski kerapakmu makin rapuh menantikan kupu kupu
Tak pernah akan terpikir aku akan ingin menyeberang dengan sayapku yang masih basah saat kau pergi bersama angin . Dan saat itu kau alirkan keyakinanmu akan hujan yang akan selalu datang untukku saat kering meranggas di atas padangku
Dan tak pernah akan kulihat tarian seindah dirimu bersama sepasang ilalang. Menabuhkan gendang, mengunyah mawar, melagukan alam dan ibu. Dan setelah bara meredupkan irama malam, secangkir kenangan yang menyanyi bisu, kutinggalkan kau menghilang bersama kerakal tentangmu
Jakarta, Januari 2007

Thursday, January 04, 2007

Bifurkasi

Sunyi
Seperti setan datang merenggut bunyi
Warna jelaga jatuh dalam kristal-kristal kaca
Neraka jatuh dalam kelam jiwa
Dan samudramu beku meredam seribu makna